Cerita Ahli Nahwu (Ahli Bahasa)
Muhammad Amin Al Jundi berkisah tentang ahli nahwu. Seseorang yang mahir dalam tata bahasa arab, ahli gramatika. Jika ada orang berbicara, si ahli bahasa itu selalu mencermati bagaimana susunan bahasanya. Kalau ada yang tidak tepat, dengan cepat mengoreksinya. Kepada anaknya, dia bahkan selalu minta agar mengulangi ucapanya bila tidak sesuai dengan nahwu.
Suatu saat si ahli nahwu tengah duduk bersama anaknya didepan perapian. Tiba – tiba api menjilat bagian jubahnya. Anaknya melihat, lalu berkata “Wahai ayah, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu, apakah aku diijinkan ?” ayahnya menjawab, “Jika yang ingin kamu katakana itu benar, maka ucapkanlah”. Si anak menjawab “Aku rasa yang aku katakana itu benar”. Si ayah berkata “Ucapkanlah, hai anakku”. Anak itu kemudian berujar “Aku melihat sesuatu yang berwarna merah di atas jubahmu”. Ayahnya membalas “Apakah itu ?”. si anak dengan sigap menjawab “ Ada bola api jatuh di atas jubah ayah”.
Si ayah yang ahli nahwu itu terperanjat “ Kenapa kamu tidak segera memberitahukan kalau jubahku terbakar ?” kata sang ayah dengan nada keras. Anaknya menjawab “ Aku berpikir dulu kemudian aku susun kata-kataku agar tata bahasanya benar, baru aku ucapkan sebagaimana pesan ayah”. Ayah yang fanatic bertutur bahasa sesuai gramatika itu dengan geram berkata “ sudah sekarang jangan sekali – kali berkata dengan menggunakan nahwu!”. Si anak hanya tertegun heran……
Kisah diatas tentu saja bukan kejadian yang sesungguhnya. Namanya juga anekdot, cerita lucu tapi bermakna. Ada pesan penuh arti. Bahwa berbahasa yang baik itu penting, tetapi harus sesuai keberadaan. Bahwa berpikir verbal itu tidak salah, namun lihatlah situasi. Berbahasa itu untuk menyampaikan pesan, sebagai alat komunikasi yang tepat. Jangan mementingkan susunan berbahasa tetapi pesan tidak sampai ke sasaran. Lebih jauh lagi ambil esensi jangan terjebak bungkus....
0 Response to "Cerita Ahli Nahwu (Ahli Bahasa)"
Posting Komentar