.....Karena ukuran kita tidak sama.......
Oleh Salim A. Fillah
"seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki
ukurannya, memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti memaksakan
sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya
akan berbaris rapi-rapi"
Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang.
Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara,
ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu
masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan
dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.
Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau
pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat
sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika
melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,
“Masya
Allah” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!”
Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab.
”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya,
“Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!”
Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.
Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab.
”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya,
“Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!”
Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.
”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah
akan menanyakannya padaku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai ‘Utsman!” ’Umar
berteriak dari kejauhan. Suaranya bersiponggang menggema memenuhi lembah dan
bukit di sekalian padang.
“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman,“Akan kusuruh pembantuku
menangkapnya untukmu!”.
”Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman! Masuklah!”
“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah
unta itu akan kita dapatkan kembali.“
“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai ‘Utsman,
anginnya makin keras, badai pasirnya mengganas!”
Angin makin kencang membawa butiran pasir membara. ‘Utsman
pun masuk dan menutup pintu dangaunya. Dia bersandar dibaliknya & bergumam,
”Demi Allah, benarlah Dia & RasulNya. Engkau memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi terpercaya.”
”Demi Allah, benarlah Dia & RasulNya. Engkau memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi terpercaya.”
‘Umar memang bukan ‘Utsman. Pun juga sebaliknya. Mereka
berbeda, dan masing-masing menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki
“Umar, jagoan yang biasa bergulat di Ukazh, tumbuh ditengah
bani Makhzum nan keras dan bani Adi nan jantan, kini memimpin kaum mukminin. Sifat
– sifat itu keras,jantang, tegas, tanggung jawab dan ringan tangan turun
gelanggang – dibawa Umar ini menjadi cirri khas kepemimpinannya.
Usman,
lelaki pemalu, anak tersayang
kabilahnya, dating dari keluarga bani Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup
nyaman sentosa. Umar tahu itu, maka tak dimintanya Utsman ikut turun ke
sengatan matahari bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan diri. Tidak,
itu bukan kebiasaan Utsman. Rasa malulah yang menjadi akhlaq cantiknya. Kehalusan
budi perhiasannya, kedermawanan yang menjadi jiwanya. Andai Utsman jadi
menyuruh budaknya untuk mengejar unta zakat itu sang budak pasti dibebaskan
karena Allah dan dibekalinya timbunan dinar.
Itulah Umar dan inilah Utsman, Mereka berbeda
Dalam kehidupan berukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa.
Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita
punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik
tokoh lain lagi.
Dalam kehidupan berukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada
yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.
.......dari sebuah blog, untuk dapat kita renungkan.......
0 Response to ".....Karena ukuran kita tidak sama......."
Posting Komentar